Awalnya gue gak pernah kepikiran bakal nyemplung ke dunia freelance jasa buat website. Dulu cuma iseng belajar ngoprek desain blog, ganti template, utak-atik layout biar keliatan lebih keren. Dari situ malah keterusan. Temen mulai nanya, “Bro, bikinin website dong.” Dari satu project kecil, lama-lama jadi jalan rezeki.
Apalagi setelah beberapa insight dan referensi pengalaman kerja project lokal yang juga sempat dibahas di website seperti Senapati Logistics, gue makin sadar kalau kebutuhan website itu real banget—bukan cuma buat perusahaan besar, tapi juga UMKM sampai personal branding.
Awal Mula Dapet Klien Pertama
Jujur, klien pertama gue bukan dari iklan atau SEO. Tapi dari circle tongkrongan.
Ada temen yang punya usaha jasa kirim barang. Dia bilang:
“Website itu penting gak sih?”
Gue jawab santai,
“Penting banget. Biar usaha lo keliatan profesional, gak cuma ngandelin Instagram doang.”
Akhirnya gue bikinin website company profile sederhana. Fitur masih basic:
-
Home
-
Tentang Kami
-
Layanan
-
Kontak
Tapi setelah websitenya online, dia mulai dapet klien dari Google. Dari situ gue langsung mikir:
“Wah ini bisa jadi peluang.”
Realita Jadi Freelance Web Developer
Banyak yang ngira freelance itu santai. Padahal kenyataannya:
Kadang santai.
Kadang begadang.
Ada fase dimana chat klien masuk jam 11 malam:
“Mas, warna tombolnya bisa diganti gak?”
Padahal revisi udah 7 kali.
Tapi disitu serunya freelance. Kita belajar:
-
sabar
-
komunikasi
-
ngerti maunya klien (yang kadang berubah tiap hari)
Dan yang paling penting: belajar bikin website yang bukan cuma bagus, tapi juga fungsi buat bisnis.
Tantangan Paling Kerasa Waktu Jadi Freelancer
1. Klien Belum Paham Website Itu Apa
Banyak klien mikir website itu cuma tampilan.
Padahal ada:
-
domain
-
hosting
-
kecepatan loading
-
SEO
-
mobile responsive
Kadang gue harus jelasin dari nol, pake bahasa simpel biar gak bikin mereka tambah bingung.
2. Revisi Tanpa Ending
Ini klasik.
Awalnya minta desain clean.
Pas jadi malah:
“Mas, tambahin animasi ya.”
“Mas, kayaknya warna merah aja.”
“Mas, balik lagi ke yang pertama.”
Di situ gue mulai belajar bikin sistem kerja:
-
revisi dibatasi
-
konsep disepakati dulu
-
timeline jelas
Biar gak chaos.
3. Budget vs Ekspektasi
Ada juga yang minta:
Website kayak perusahaan besar…
tapi budgetnya level “anak kos akhir bulan”.
Disini gue belajar edukasi klien pelan-pelan, bukan langsung nolak.
Kenapa Gue Tetap Pilih Jalur Freelance Website
Walaupun tantangannya banyak, freelance web itu punya kelebihan yang bikin nagih.
Fleksibel
Kerja bisa dari mana aja.
Kadang dari rumah.
Kadang dari cafe.
Kadang dari kamar sambil denger playlist lo-fi.
Project Selalu Berbeda
Setiap klien punya kebutuhan unik:
-
ada yang jualan
-
ada yang branding
-
ada yang cuma pengen eksis di Google
Jadi gak monoton.
Skill Naik Cepat
Karena semua dikerjain sendiri:
-
desain
-
optimasi
-
troubleshooting
Skill berkembang lebih cepat dibanding kerja satu posisi doang.
Momen Paling Berkesan Selama Jadi Freelance Website
Salah satu momen yang paling gue inget adalah ketika ada klien yang awalnya ragu bikin website karena merasa usahanya masih kecil.
Setelah websitenya online sekitar 3 bulan, dia chat:
“Bro, sekarang order masuk tiap minggu dari Google.”
Disitu rasanya beda.
Bukan cuma soal bayaran, tapi soal dampak.
Website yang kita buat ternyata bisa bantu bisnis orang berkembang.
Insight yang Gue Dapet Setelah Banyak Ngerjain Project Website
Ada beberapa hal yang akhirnya gue pahami:
Website itu bukan sekadar desain keren.
Website itu alat marketing.
Yang penting bukan cuma:
-
warna bagus
-
layout modern
Tapi:
-
gampang diakses
-
cepat loading
-
jelas informasinya
-
muncul di Google
Dan yang paling penting: website harus menghasilkan.
Freelance Website Itu Cocok Buat Siapa?
Menurut pengalaman gue, jasa freelance website cocok buat:
-
UMKM yang baru mulai go digital
-
bisnis lokal yang pengen tampil profesional
-
personal branding
-
jasa layanan
-
toko online skala kecil sampai menengah
Karena fleksibel dan bisa disesuaikan budget.
Saatnya Lo Punya Website Profesional Tanpa Ribet
Kalau lo udah baca cerita pengalaman gue di atas, pasti sekarang kebayang kalau bikin website itu bukan cuma soal desain keren, tapi soal gimana bisnis lo bisa lebih dipercaya, lebih gampang ditemukan di Google, dan lebih menghasilkan.
Gue sendiri udah ngerjain berbagai project website—mulai dari company profile, website jasa, sampai landing page marketing. Dari pengalaman itu, gue ngerti banget kebutuhan tiap bisnis itu beda-beda. Makanya konsep yang gue pakai bukan template asal jadi, tapi menyesuaikan dengan branding dan target market lo.
Seperti yang juga sempat dibahas pada referensi halaman berikut
https://senapatilogistics.com/tempat-buat-website-di-surabaya/
kebutuhan website sekarang bukan lagi gaya-gayaan, tapi sudah jadi kebutuhan utama supaya bisnis bisa naik level secara digital.
Kalau lo:
Punya usaha tapi belum punya website
Website lama tampilannya jadul
Mau website yang SEO friendly
Mau harga freelance yang lebih fleksibel dibanding agency
langsung aja ngobrol santai sama gue.
Kita bahas konsepnya dulu, tanpa ribet dan tanpa bahasa teknis yang bikin pusing. Target gue simpel: bikin website yang bukan cuma online, tapi juga bisa bantu bisnis lo berkembang.
Karena di era sekarang, kalau bisnis lo belum punya website, ya siap-siap kalah start sama kompetitor yang udah duluan digital.
Penutup: Dunia Freelance Website Itu Capek, Tapi Seru
Kalau ditanya capek gak?
Capek.
Kalau ditanya worth it gak?
Banget.
Dari freelance jasa buat website, gue belajar banyak hal:
-
teknis
-
komunikasi
-
marketing
-
sampai cara ngerti karakter klien
Dan yang paling penting, gue sadar satu hal:
Sekarang hampir semua bisnis butuh website.
Dan peluang di dunia ini masih gede banget.
Kalau lo lagi kepikiran masuk ke dunia freelance web, saran gue satu:
Mulai aja dulu.
Skill bisa nyusul.
Pengalaman bakal kebentuk sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar